Mengaji Sinabung Dan Merapi

By Admin


nusakini.com - "Kesetiaan, pengabdian dan teguh berkeyakinan tidak boleh dianggap kebodohan atau kesombongan"

Ada dua tema yang menyerbu untuk saya catat. Keduanya tentang gundukan. Pertama gundukan tanah di pangkal pohon Pisang samping rumah saya, dan kedua, gundukan di Jogja yang dikenal sebagai Merapi itu. Keduanya menarik karena mustahil Tuhan mencipta sekecil apapun fenomena sebagai sia-sia. Meski keduanya bermakna, tentang Merapi pastilah lebih besar daya tariknya. 

Maka saya pilih mendahulukan tema Merapi itu untuk tiga hal. Pertama, Merapi kebanggaan kita itu kaya perlambang bagi Yogyakarta, Jawa dan Indonesia secara umum. Kedua, bahkan duniapun memperhatikan dengan seksama karena Merapi adalah paku penting bagi stabilitas bumi secara keseluruhan. Ketiga, dan ini yang paling penting, di Merapi ada Mbah Maridjan. Dan alasan ketiga inilah yang dominan. 

Sebagian besar kita sepakat: Mbah Maridjan adalah fenomena tersendiri di samping fenomena alam yang ditampilkan Merapi. Bahkan perlahan, Mbah Maridjan mulai lebih besar dari Merapi sendiri. Ini jelas. Mbah Maridjan dipuja tetapi pasir Merapi dikeruk dengan rakusnya. Mbah Maridjan dicari fatwanya, tetapi Merapi diacuhkan haknya. Mbah Maridjan dijual dan laku keras, Merapi ditindas. Merapi beranjak mengecil pada saat juru kuncinya membesar. 

Tapi Mbah Maridjan menolak semua kecenderungan. Dia tahu, dirinya digerakkan ke arah yang tidak semestinya. Simbah ini mengerti bahwa titah sang Sultan kepada dirinya adalah untuk mengabdi, bukan menjadi selebriti. Sejak 2006, ketika kemewahan mulai mengancam kesederhanaan, Mbah Maridjan tahu: kawaskitannya terancam oleh kebendaan, jati dirinya yang sunyi sedang dirayu oleh gemerlap, dirinya yang abdi sedang diskenario menjadi selebriti. Sejak itu, Simbah bertobat dan meruwat diri: kesetiaan, tanggungjawab, pengabdian dan teguh berkeyakinan adalah titah yang tidak boleh dibantah. 

Maka 2010 ini adalah pembuktian: apapun yang terjadi, saya tetap di sini, bersama Merapi. 

Merapi sedang membangun dan menyelenggarakan hajatan besar. Hanya abdi pecundang yang melarikan diri, saat sang majikan mempunyai kesibukan. Ikut berkemah berarti mengesampingkan amanah. Mbah Maridjan tidak mengajak siapa-siapa untuk menetap bersamanya karena titah sang Sultan jelas, hanya dirinya yang ditugasi. Mereka yang memilih terbakar bersama sang Abdi adalah mereka yang tersedot ke pusaran kesetiaan dan pengabdian.

Mbah Maridjan terlanjur kembali ke jati diri mengabdi, tetapi kawaskitannya terlanjur tergerus oleh industri. Mbah Maridjan lupa bahwa 2006 yang menteror konsistensinya mengabdi telah pula merusak Geger Boyo: bongkahan batu besar menyerupai punggung Buaya yang menghalangi muntahan Merapi melewati desanya, Kinahrejo. Sang juru kunci lupa bahwa Geger Boyo yang rusak adalah bisikan sang Merapi. Dan kealpaan itu ditebus sendiri oleh sang juru kunci: Mbah Maridjan wafat. 

Begitu sajakah Sang Fenomena wafat? Ya, wafatnya memang begitu saja. Tetapi rekam jejaknya luar biasa. Soal apakah Beliau dan pengikutnya husnul khatimah, biarlah Tuhan penentunya. Ajakan saya adalah mari berbaik sangka, toh kita bukan panitia penerimaan penghuni surga. Mari berkaca dari keteladaan tetua. Soal yang tua tidak selalu benar, namanya juga manusia biasa. Kita contoh saja kebaikannya. Kita berdoa untuk semua yang menghadap Tuhan oleh leturan Merapi, husnul khatimah dan berpulang dengan bekal kebaikan yang melimpah. 

Ketika catatan lama ini saya edit kembali, Sinabung sedang menyusul saudara tuanya, Merapi; menyusul menyelenggarakan hajatan membangun diri sendiri. Sinabung sama dengan Merapi: masalah lokal tapi menjadi fokus nasional. Bedanya, Sinabung tidak memiliki Mbah Maridjan yang fenomenal. Itulah kiranya Sinabung yang juga menelan banyak korban jiwa masih saja kalah dengan gempita media memberitakan satu persatu pejabat yang terlibat korupsi. Sinabung sama dengan Merapi tapi karena Sinabung bukan di tanah Jawi, deritanya kalah dengan perang banjir ala Jokowi. Sinabung dan Merapi meletus memang di era desentralisasi, tapi kiranya masih layak dikaji gejala sentralisasi yang menyeruak kembali dengan wajahnya yang tetap ngeri.

Sinabung menabung untuk masa depan keseimbangan bumi nusantara dan dunia. Beberapa nyawa menjadi korban dan selalu begitu: Jer basuki mowo beyo, semua hajat besar mensyaratkan biaya besar. Mereka yang meninggal di Sinabung, Merapi dan semua lokasi yang kita sebut bencana alam adalah bagian dari pelajaran penting bagaimana alam merencanakan masa depan; masa depan lokal, nasional dan internasional. Sinabung memang di sana, tapi urusannya juga harus memantik peduli yang di sini. Jangan gempita menikmati jasa Sinabung tapi gagal ikut merasa menderita bersamanya. Sinabung menabung dan kita tahu maksud peribahasa: Jasa sama dirasa, derita sama di asa. 

Dan beberapa saat sebelum saya temukan kembali tulisan ini di antara serakan tulisan, Merapi kembali bereaksi. Sebuah letusan freatik yang tiba-tiba. Pemicunya dorongan tekanan uap air akibat kontak massa air dengan panas di bawah kawah gunung. Kengerian sesaat adalah kengerian yang berlipat jika datangnya tiba-tiba. Apalagi terjadi di hari yang baru saja membuka mata. Tidak ada korban jiwa, tetapi kengeriannya tetap terasa. Alam kembali memperlihatkan kekuatannya. Merapi dan Sinanung hanya bagian kecil dari ayat Tuhan bagi semesta. Merapi dan Sinabung adalah berita bahwa mengaji jangan hanya yang tersurat mulai Al Fatihah hingga An Naas. Mengaji alam, mengaji diri, mengaji keseluruhan kebesaran Tuhan.  

Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Dan begitu mudah memahami bahwa Tuhan Maha Besar, tapi teramat sulit bahkan untuk sekedar mengerti bahwa selain Tuhan semuanya kecil. Sinabung dan Merapi besar, tetapi keduanya teramat kecil di hadapan kebesaran Tuhan. Jabatan dan karir besar, tapi di hadapan Tuhan semuanya kecil. Anak dan keluarga tentu besar, tapi kecil belaka di hadapan Tuhan. Wali dan Nabi-nabi pastilah agung, tapi pasti tidak ada apa-apanya dibanding Tuhan. Mekah dan Madinah besar, tapi Tuhan jauh berlipat lebih besar. Suka duka terasa besar, tapi tidak lebih besar dari Tuhan. Sinabung dan Merapi mengerikan. Tapi keduanya tidak lebih dari sekedar tanda kebesaran Tuhan.

Wallahu a’lam.

Syahid Widi Nugroho